SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA SEMOGA ADA YANG BERMANFAAT BAGI ANDA.....TERIMA KASIH...

Selasa, 20 Desember 2011

pengendaliah hama terpadu


PENGENDALIAN HAMA TERPADU TANAMAN PANGAN :                           KONSEPSI DAN IMPLEMENTASI

                                                               Djafar Baco
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan


ABSTRAK
Pengendalian hama terpadu sudah menjadi kebutuhan masyarakat maju di dunia, bahkan telah turut mendorong lahirnya konsep-konsep baru dalam menata ekosistem pertanian serta sejalan dengan program-progam ekosistem secara global. Pelaksanaan program penelitian dan pengembangan PHT tanaman pangan telah berjalan lebih dari 30 tahun utamanya pada tanaman padi di Sulawesi Selatan. Banyak komponen tehnologi PHT telah diterapkan oleh petani secara terpadu dan turut memberikan perbaikan ekosistem dan peningkatan produksi serta pendapatan petani. Tehnologi-tehnologi tersebut didiseminasikan  melalui penyuluhan, temu lapang, sekolah lapang, dan melalui budaya Tudang Sipulung. Selanjutnya masih  banyak lagi teknologi PHT yang dihasilkan oleh peneliti  baik di dalam maupun luar negeri namun tingkat adopsi di tingkat petani masih terbatas. Model penelitian dan pengembangan serta transfer teknologi PHT sudah harus diperbaiki dengan melibatkan petani sejak awal dengan status sejajar dengan peneliti maupun penyuluh. Keberhasilan pelaksanaan PHT dimasa datang bukan saja ditentukan oleh ketepatan komponen teknologi tetapi juga sangat ditentukan oleh keterpaduan berbagai pihah baik antar disiplin ilmu maupun antar instansi yang terkait. Keterpaduan adalah suatu kata yang mudah diucapkan oleh semua orang namun sering kali sulit dilaksanakan kalau tidak didorong oleh niat kebersamaan.  
Kata kunci : PHT, ekologi, kestabilan ekosistem, pendapatan, terpadu


PENDAHULUAN
         Pengendalian hama terpadu pada awalnya muncul akibat penggunaan pestisida kimia yang berlebihan pada pertanian. Setelah pesitsida sintetis dikembangkan banyak kalangan yang berpendapat bahwa masalah hama telah selesai dan diperkirakan bahwa pada suatu saat hama yang biasa merusak tanaman hanya dapat ditemukan di museum. Pestisida sintetis semakin dikembangkan dan penggunaannya semakin luas yang mengakibatkan timbulnya resistensi, residu yang  berbahaya bagi kesehatan manusia, munculnya hama baru,  dan pencemaran terhadap lingkungan.  Perhatian akibat penggunaan insektisida yang berlebihan ini mencapai puncaknya pada dekade 1960-an ketika muncul buku wartawati Carson (1962) dengan judul yang sangat menarik terutama bagi manusia yang tinggal atau pernah tinggal di daerah subtropis yaitu ”Silent Spring”. 
         Sangat dilemmatis pada periode tersebut negara sedang berkembang seperti Indonesia baru memulai pembangunan ekonomi dan sangat memerlukan bantuan dari luar.  Penggunaan pestisida yang berlebihan juga tidak terhindarkan terutama setelah pestisida pada waktu itu banyak bantuan dari luar dan juga mendapat subsidi dari pemerintah seperti halnya sarana pertanian lainnya pada tanaman pangan pada umumnya, khususnya tanaman padi. Hal tersebut didorong pula oleh pandangan umum yang menyatakan makin banyak pestisida digunakan akan semakin baik karena produksi pertanian semakin tinggi.  Untungnya kesadaran akan bahaya pestisida tersebut segera timbul dan kajian-kajian pengendalian hama terpadu mulai digalakkan.  Sayangnya teknologi yang dicapai tidak diikuti dengan cepat pelaksanaan di lapangan oleh pelaku utama pembangunan pertanian yaitu petani.
         Makalah ini mencoba menguraikan secara singkat pengendalian terpadu tanaman pangan dan hortikultura dengan perhatian utama pada tanaman padi khususnya di Sulawesi Selatan.

SEKILAS PERJALANAN PENGEN-DALIAN HAMA TERPADU
          Konsepsi pengendalian terpadu pada tahun enam puluhan sebenarnya sudah dimiliki dan banyak dibicarakan oleh ilmuwan dan peneliti di Indonesia  Apalagi pada mulanya inti pengendalian terpadu adalah mengintegrasikan komponen-komponen  pengendalian khususnya pe-ngendalian biologi yang aman terhadap lingkungan. Pengendalian biologi di Indonesia sebelum era pestisida cukup maju. Konsepsi pengendalian biologi bahkan tergambar dalam legenda sastra bugis kuno, Sure Galigo episode Meong Palo KarellaE. Dalam episode tersebut  digambarkan bagaimana Sang Hyang Seri (padi) menghadap Tuhan di langit dan tidak ingin kembali ke bumi karena kelakuan manusia tidak senonoh. Seseorang memukul kucing hanya karena kucing memakan ikan yang dibeli di pasar (Fachruddin, 2002). Siapapun yang tinggal di daerah padi mengetahui bahwa kucing makan tikus yang merusak padi baik dipertanaman maupum di tempat penyimpanan. Dalam hal ini peran kucing sebagai predator hama tikus sudah mendapat perhatian di zaman kuno di Sulawesi Selatan.
            Pengendalian biologi  pada tana-man perkebunan sebelum tahun 1960-an cukup maju meskipun hampir tidak melibatkan petani. Pelaksanaan pengen-dalian hama penyakit oleh petani pada periode tersebut  didominasi cara fisik dan cara bercocok tanam, meskipun seringkali bercampur dengan hal yang mistik. Sisa-sisa cara pengendalian tersebut masih dapat dijumpai di beberapa tempat di Sulawesi Selatan seperti pemasangan fajo-fajo (orang-orangan) untuk mengusir hama tertentu.
          Pada pertengahan dekade 1960-an penggunaan pestisida kimia mulai banyak dikenal petani sejalan dengan berbagai program pemerintah untuk meningkatkan produkasi beras yang banyak dikenal dengan istilah revolusi hijau (green revolution). Terlepas dari berbagai kekurangan revolusi hijau, program pemerintah tersebut telah berhasil meningkatkan produksi yang sangat mengagumkan. Hal itu diakui oleh bebagai pihak baik di dalam maupun luar negeri termasuk dari pihak yang tidak menyukai revolusi hijau (Iman M.Fahmid. 2004). Indonesia sebagai salah satu negara pengimpor beras terbesar di dunia mencapai swasembada pada tahun  1984. Keberhasilan tersebut tidak diikuti dengan pengurangan penggunaan pestisida, bahkan jumlah formulasi yang digunakan semakin bertambah. Akibatnya masalah hama di Indonesia bukannya berkurang bahkan semakin bertambah. Wereng punggung putih dapat dikatakan tidak pernah menjadi masalah di Sulawesi Selatan, menjadi salah satu hama yang dikuatirkan oleh petani. Tungau tebu, Iceria sacharium  belum pernah dilaporkan menyerang tanaman padi kemudian juga ditemukan di Sulawesi Selatan (Baco et al. 1991, Baco et al. 1992). Kasus resurgensi (istilah ini belum dikenal oleh orang awam meskipun bekerja dibidang hama pada waktu itu) muncul pada awal tahun 1980-an. Kasus lain adalah munculnya biotipe baru, ras-ras baru hama dan penyakit tanaman pangan dan banyak lagi yang tidak dikemukakan satu persatu dalam tulisan ini.
            Meskipun prinsip PHT telah diterima oleh pemerintah dan mulai masuk dalam GBHN III di zaman pemerintahan Orde Baru, namun pelaksanaannya masih banyak menggu-nakan pestisida karena keraguan dari pihak penentu keputusan mengenai keefektifan dari PHT tersebut. Hal yang menarik untuk disimak yaitu terjadinya eksplosi hama khususnya wereng coklat di Indonesia termasuk di Sulawesi Selatan pada tahun 1977/1978. Di beberapa  propinsi dilakukan penyem-protan insektisida dengan menggunakan pesawat udara.  Pemerintah Sulawesi Selatan khususnya para pakar menolak penggunaan pesawat udara untuk penyemprotan hama tersebut, meskipun  pesawat dan pestisida sudah disiapkan dan merupakan bantuan dari pusat, dengan alasan 1). Penyemperotan dengan pesawat dipastikan kurang selektif, kurang aman terhadap lingkungan dibanding penyemprotan dari darat oleh petani, 2. Penyemprotan dengan pesawat tidak membuat petani mandiri dan akan berdampak terhadap setiap ada eksplosi hama mereka meminta pemerintah melakukan penyemprotan. Kedua prinsip tersebut digunakan kemudian sebagai pegangan dalam program pelatihan PHT bagi petani. Strategi yang dilakukan pada waktu itu adalah menyebar peneliti muda dari lembaga penelitian dan petugas proteksi dari propinsi dibantu tenaga di kabupaten melakukan pengamatan singkat di daerah pertanaman padi. Pada hamparan/petakan sawah dimana ditemu-kan populasi hama dianggap perlu dilakukan penyemprotan pestisida  maka dipasang bendera merah, pada hamparan yang harus diwaspadai (telah ditemukan populasi namun belum dianggap perlu diambil tindakan penyemprotan) dipasang bendera kuning, sementara pada hamparan yang dianggap masih aman dipasang bendera hijau. Sistem tersebut berlanjut beberapa tahun. Peristiwa tersebut terjadi jauh sebelum program  PHT dijalankan secara nasional di Indonesia.
           Masalah hama dan penyakit tanaman pangan yang begitu banyak terutama akibat penggunaan insektisida yang kurang bijaksana mengakibatkan lahirnya Inpres 3, 1986. Inti dari impres tersebut yaitu pengendalian hama dan penyakit di Indonesia dilakukan secara terpadu, dan melarang penggunaan 57 jenis insektisida pada tanaman padi. Implementasi dari impres tesebut adalah program nasional PHT antara lain pelatihan petani padi melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT). Sampai akhir tahun 1990-an jumlah petani yang telah mengikuti SLPHT sekitar 50 000 orang. Memang jumlah tersebut masih sangat sedikit dibanding jumlah petani yang ada. Akan tetapi apabila program tersebut berhasil seharusnya telah berjuta-juta petani memahami PHT akibat efek ganda (multiplier effect)  sebagai ciri dari sekolah lapang. Inpres tersebut juga disusul kebijakan pengurangan subsidi pestisida secara bertahap dan seluruhnya berakhir tahun 1989.
           Kemajuan PHT pada tanaman pangan lainnya ternyata tidak semaju  dengan PHT pada tanaman padi. Namun beberapa pelajaran yang dapat diperoleh dari komoditas lain. Seperti pada keberhasilan swasembada beras, program peningkatan produksi kedelai diikuti dengan peningkatan penggunaan pestsida.  Masyarakat di sekitar Danau Tempe Kabupaten Wajo bangga dengan produksi kedelai yang melimpah, namun juga diikuti dengan penggunaan insektisida yang melimpah pula pada tahun 1980-an. Penanaman kedelai di pesisir danau tersebut berlangsung sepanjang tahun mengikuti pasang dan surutnya air danau, Akibatnya populasi hama juga berkembang dengan baik secara terus-menerus. Ternyata penggunaan pestisida tidak menyelesaikan masalah hama kedelai, semakin banyak pestisida digunakan semakin banyak masalah hama yang dihadapi. Berbeda dengan padi dan kedelai, tanaman jagung jarang mendapat serangan hama yang serius dan berkepanjangan. Penanaman jagung yang cukup intensif di daerah Takalar, tidak pernah dilaporkan mendapat serangan penggerek batang yang serius, meskipun pada  pertanaman jagung di daerah tersebut dengan mudah ditemukan telur-telur penggerek batang, Ostrinia furnacalis. Ternyata parasit telur, Trychogramma evanescens   selalu tersedia di lapangan dan diperkirakan memegang peranan yang penting dalam pengaturan populasi di alam. Parasitoid, T. evanescens adalah spesies parasitoid telur yang efektif pada penggerek jagung (Pabbage dan Baco. 2001, Pabbage, 2005). Petani di daerah tersebut tidak pernah menyemprot tanamannya dengan insektisida.

KONSEPSI PENGENDALIAN HAMA TERPADU
            Pengendalian hama secara terpadu merupakan konsepsi dan bukanlah suatu paket teknologi yang siap pakai  dan siap menyelesaikan segala sesuatu seperti layaknya cerita ” The pied  piper and his orchestra” (Leirs, 2003) dalam pengendalian hama tikus.  PHT merupakan suatu metodologi yang mengandung prinsip-prinsip dasar yang menjadi pegangan para pengguna/petani menciptakan kondisi yang optimal bagi lingkungan tanaman sehingga hama tidak menjadi masalah. PHT berusaha mensinergikan antara komponen pengendalian yang sesuai untuk lingkungan tertentu  sehingga hasil pengelolaan menjadi lebih baik.
            Pada akhir-akhir ini Pengelolaan Tanaman Terpadu = PTT  (Integrated Crop Management) menjadi populer. Pengelolaan tanaman secara terpadu merupakan pendekatan ekosistem yeng lebih luas. Meskipun PHT merupakan bahagian dari pengelolaan tanaman secara keseluruhan tetapi  PHT merupakan salah satu stimulator lahirnya PTT. Konsepsi dan sasaran PTT sebenarnya  mirip dengan PHT apabila dikatakan tidak sama. Pengendalian hama terpadu merupakan suatu pendekatan ekologi, dengan kata lain PHT merupakan bagian integral dari pengelolaan agro-ecosystem (ekosistem pertanian). Ekosistem pertanian memiliki keragaman genetika dan biotik yang lebih rendah dari ekosistem alami sehingga memudahkan peningkatan populasi hama tertentu. Hal ini lebih nyata dilihat pada tanaman pangan yang biasanya ditanam pada hamparan yang luas dengan menggunakan varietas tertentu saja tanpa pergiliran tanaman.  
            Orientasi PHT adalah kestabilan lingkungan dan peningkatan pendapatan petani. Meskipun ekosistem pertanian keragamannya lebih rendah dari  ekosistem alami, namun masih ditemukan jaringan makanan yang sangat kompleks dan dinamis. Dengan demikian PHT tidak dapat menjadi satu paket yang seragam disetiap tempat dan setiap waktu, namun peluang menstabilkan ekosistem pertanian masih cukup besar. Kestabilan ekosistem merupakan harapan besar manusia dibumi. Paling tidak ada empat peristiwa international yang sangat penting menyangkut kestabilan lingkungan dan perkembangan global yang telah dilakukan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) sejak 1992 antara lain Konfrensi Lingkungan dan Perkembangan yang popular dengan Pertemuan Puncak Bumi (Earth Summit) di Rio de Jeneiro (1992), Pertemuan Puncak Pangan Dunia di Roma (1996), Pertemuan Puncak Milenium di New York (2000), Pertemuan Puncak Dunia tentang Perkembangan Berkelanjutan di Johannesburg (2002).
            Peningkatan pendapatan sebagai salah satu orientasi PHT harus selalu diperhatikan petani dalam mengambil keputusan menggunakan suatu tindakan pengendalian. Hanya tindakan yang memberi keuntungan ekonomi yang patut dilakukan oleh petani. Perhitungan ekonomi yang mulanya diperkenalkan oleh Stern et al. (1959) kemudian menjadi populer dikalangan ahli-ahli PHT adalah kerusakan ekonomi (economic damage), taraf luka ekonomi (economic injury level), dan ambang ekonomi (economic threshold). Perhitungan tersebut memang tidak mudah dan sifatnya sangat dinamis, karena selain dipengaruhi berbagai faktor teknis, juga akan sangat dipengaruhi oleh nilai pasar komoditas yang bersangkutan.. Namun demikian menurut hemat penulis bagaimanapun juga sebaiknya dibuat ambang sederhana sebagai pegangan petani, namun apabila terjadi perubahan nilai dapat dengan mudah dikomunikasi-kan kepada pengguna.  Ambang ekonomi terhadap hama tanaman pangan yang telah dibuat dan direkomendasikan baru tanaman padi dan kedelai (Untung,  1993).
            Hal yang sangat penting dan tidak bisa dilupakan yaitu keterpaduan dalam PHT bukan hanya merupakan keter-paduan komponen pengendalian, tetapi lebih jauh harus merupakan suatu keterpaduan program, keterpaduan antar disipin ilmu, dan keterpaduan antar instansi.

HASIL PENELITIAN DAN IMPLEMENTASI PHT DI TINGKAT  PETANI
          Komponen pengendalian yang menjadi acuan dalam PHT adalah pengendalian alami/hayati, cara bercocok tanam, varietas tahan, fisik/mekanik, pestisida selektif. Pestisida selektif sebagai komponen pengendali seyogianya digunakan sebagai langkah terakhir dan komponen pengendalian hayati/alami seharusnya mendapat perhatian pertama.
          Berbagai hasil penelitian yang mendukung program pengendalian hama dan penyakit tanaman pangan telah banyak dimanfaatkan oleh petani. Sebagai contoh hasil penelitian menunjukkan bahwa panen padi pada ketinggian 10 cm di atas permukaan tanah dapat membantu menurunkan populasi dan tingkat serangan penggerek batang padi, karena mendekati saat panen populasi larva berada pada posisi tersebut (Manwan, 1970). Teknologi tersebut secara berangsur-angsur diadopsi oleh petani sejalan dengan perkembangan varietas baru yang tidak dipanen dengan menggunakan anai-anai dan dirontokkan dilapangan dengan menggunakan threser. Pada periode tahun 1980-an hampir tidak pernah terjadi ekplosi hama penggerek batang padi di daerah ini. Namun demikian perkembangan alat perontok, mengharus-kan panen pada bagian atas di sebagian besar wilayah padi di Sulawesi Selatan,bahkan berkembang alat panen sekaligus  perontok di Pinrang tanpa memotong batang padi. Akibat panen bagian atas tanaman, beberapa tahun terakhir penggerek batang dilaporkan menjadi serius di beberapa wilayah. Tentu bukan panen atas penyebab tunggal, namun penulis berasumsi merupakan salah satu faktor penting yang menyebakan peningkatan serangan penggerek batang tersebut. Rekomendasi teknologi tersebut masih dapat kita temukan pada Pedoman Rekomendasi Pengendalian Hama Terpadu pada Tanaman Padi (Dir. Perlidungan Tanaman. 2003).
           Dari sekian banyak hasil penelitian pendukung program pengendalian terpadu terhadap tanaman pangan telah banyak dijadikan pedoman rekomendasi PHT padi dan palawija (Dir. Bina Perlindungan Tanaman, 1997; Dir. Perlindungan Tanaman, 2003).  Pedoman rekomendasi tersebut cukup sederhana dan akan mudah dipahami oleh penyuluh maupun petani yang telah mengikuti SLPHT. Rekomendasi yang disertai rumus-rumus matematika nampaknya masih susah diterjemahkan oleh penyuluh di tingkat lapangan. Bagi petani yang belum memperoleh pelatihan masih memerlukan banyak pendampingan. Bahkan pengama-tan penulis menemukan begitu banyak petani padi yang belum mengetahui telur penggerek batang padi putih yang dominan di Sulawesi Selatan, apalagi mengenal  paraisitoidnya.
           Hasil penelitian yang telah direkomendasikan selama bertahun-tahun melalui Tim Teknis Bimas atau Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Sulawesi Selatan utamanya pada tanaman padi  antara lain 1) penanaman tepat waktu dan serentak dalam pengertian berbunga serentak, 2) menggunakan varietas tahan, 3) melakukan pergiliran tanaman atau varietas yang memiliki tetua tahan yang berbeda, dan 4) penggunaan insektisida selektif apabila diperlukan. Berbagai komponen pengendalian lainnya untuk hama dan penyakit tertentu juga telah dianjurkan seperti panen pada pangkal batang untuk pengendalian penggerek batang padi putih, gropyokan untuk tikus, pembuatan saluran air untuk siput murbei. Teknologi tersebut telah disalurkan melalui penyuluhan, sekolah lapang, temu lapang, dan melalui budaya Tudang Sipulung. Teknologi tersebut telah diterapkan petani selama bertahun-tahun bahkan juga sebagian besar telah menjadi rekomedasi nasional (Dir. Perlindungan Tanaman Dirjen BPTP, 2003). Namun beberapa tahun terakhir teknologi tersebut mulai ditinggalkan, tentu disertai berbagai alasan yang perlu mendapat perhatian semua pihak. Sebagai  contoh waktu tanam di beberapa daerah banyak yang tidak tepat/tidak serentak dengan alasan irigasi banyak mengalami kerusakan, alsintan tidak cukup, panen serentak menyebabkan jatuhnya harga gabah, dan budaya tudang sipulung  tidak seefektif lagi dimasa lalu (Baco et al., 2005b). Dengan demikian  suatu teknologi tidak diadopsi atau ditinggalkan petani harus dicari akar permasalahannya, sehingga perbaikan dan penyaluran teknologi tidak keliru.
            Hal lain yang perlu mendapat perhatian serius oleh semua pemerhati PHT adalah penggunaan pestisida oleh petani. Jumlah insektisida yang digunakan di Indonesia menurun pada tahun 1988 dan 1989 sejalan dengan penghapusan subsidi pestisida kemudian naik lagi pada tahun-tahun berikutnya dan kemudian terjadi lagi penurunan  pada tahun 1997 dan 1998 sejalan dengan krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia (Heong, 2005). Lagi pula tidak jarang petani yang menggunakan insektisida yang sudah dilarang  pada tanaman padi. Apabila data dan informasi tersebut  benar, perlu dicari latar belakang permasalahannya. Apakah petani sesungguhnya masih menyukai penggunaan insektisida, apa mereka tidak menggunakan hanya karena kurang modal, apa mereka tidak mengetahui akibat buruknya,   atau masih adakah pihak yang memberi informasi yang keliru kepada petani. Masih banyak lagi pertanyaan yang harus dicari jawaban dan pemecahannya.
        Banyak hasil penemuan menunjuk-kan bahwa banyak sekali jenis musuh alami ditemukan dilapangan yang diketahui cukup efektif mengendalikan hama berbagai tanaman pangan (Arifin, 2005; Baco, 1998; Prayogo, 2005; Pabbage, 2005). Parasit dari Ordo Hymenoptera telah ditemukan pada ekosistem sawah lebih dari 400 spesies, setiap spesies bisa mempunyai peran sendiri-sendiri pada berbagai spesies hama dan peran tersebut tidak bisa digantikan oleh spesies lain (Heong, 2005). Musuh-musuh alami tersebut pada umumnya sulit dipelihara secara massal sehingga pemanfaatannya dilakukan dengan cara konservasi. Olehnya itu diperlukan berbagai cara untuk melindungi musuh alami yang sudah dialam termasuk kehati-hatian dalam penggunaan pestisida.
         Dalam hal perbaikan dan penyempurnaan teknologi harus selalu dipikirkan efek sinergisme dengan komponen teknologi lainnya. Telah dikemukakan dalam konsepsi PHT bahwa keterpaduan bukan saja antar komponen teknologi melainkan juga perlunya dikembangkan keterpaduan antar instansi. Hasil penelitian Baco et al. (2005a) untuk pengendalian tikus pada tanaman padi menunjukkan suatu contoh perlunya keterpaduan antar instansi. Hasil penelitian pengendalian tikus dengan Sistem Rintangan Perangkap (SRP) menunjukkan bahwa tikus yang tertangkap pada perangkap ternyata sebagian besar (65%) pada perangkap yang berarah ke kebun kakao, hanya 35% tertangkap  yang berarah dari tiga sisi lain yang berarah pada tanaman padi di sekitarnya. Buah tanaman kakao di sekitar percobaan juga mendapat serangan tikus cukup serius. Pada kondisi seperti ini mungkin ada baiknya dikembangkan SRP Linear dua arah, sehingga tikus yang berasal baik dari kebun kakao maupun dari sawah dapat tertangkap sehingga baik tanaman padi maupun kakao dapat diamankan dari serangan tikus. Keterpaduan program antar instansi atau stakeholder lainnya yang menangani kakao dan tanaman padi sangat diharapkan dan akan sangat menguntungkan.
               
KESIMPULAN
        Sejarah penelitian dan perkemba-ngan PHT pada tanaman pangan khususnya tanaman padi di Sulawesi Selatan telah berjalan lebih dari 30 tahun. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dalam perkembangan PHT yang lebih sempurna dimasa datang. Hanya teknologi yang mudah dan menguntungkan bagi petani yang dapat berkembang dan  berkelanjutan. Olehnya itu dalam meneliti dan mengembangkan tekologi PHT harus digali dari petani dengan melibatkan petani itu sendiri dari awal. Kunci keberhasian  implementasi terutama sangat tergantung pada keterpaduan itu sendiri, baik componen teknologi, antar disiplin ilmu, dan lebih penting lagi keterpaduan program antar instansi dan stakeholder yang patut terlibat.  
     
DAFTAR PUSTAKA
Baco, D., dan Y. Said, 1998.  Fluktuasi populasi penggerek batang putih S. innotata dan faktor penyebabnya di Sulawesi Selatan : Pen. Pertanian Tanaman Pangan, Vol. 17 (1): 13-19.

Baco, D., S. Sama, dan A. Hasanuddin, 1991.  Sugar cane pest found in Sulawesi rice fields.  IRRN. 16(1):22. International Rice Research Institute.
Baco, D., Masmawati, dan S. Sama, 1992. Tungau tebu, A. saccharium pada tanaman padi dan pengendaliannya.  Agrikam.  Bul. Pen. Pert. Maros. 7(I): 1-6.
Baco, D., Ramlan, and I. Manwan. 2005a. Assessment and dissemination of trap barrier system to control rat pest in irrigated lowland rice in South Sulawesi. Paper presented at the International Rice Confrence. Bali 12-14 September 2005.
Baco, D., Ramlan, dan I. Manwan. 2005 2005b. Kajian dan sosialisasi pengendalian tikus terpadu dengan basis Sistem Rintangan Perangkap. Makalah disampaikan pada Loka-karya Seminar Percepatan Penye-diaan dan Pengembangan Paket Inovasi Teknologi Padi di Universitas Hasanuddin 26- 27 September 2005.
Carson, R. 1962. Silent Spring. Houghton Mifflin Co., Boston, 368 p.                              
Dir. Bina Perlindungan Tanaman Pangan. 1997. Pedoman Rekomendasi Pe-ngendalian Hama Terpadu Tanaman Padi dan Palawija. Dirjen Tan. Pangan dan Hortikultura. 159 hal.
Dir. Perlindungan Tanaman. 2003. Pedo-man Rekomendasi Pengendalian Hama Terpadu  pada Tanaman Padi. Dirjen BPTP. 153 hal.
Fachruddin, A.E. 2002. Padi ditinjau dari segi budaya bugis. Makalah disampaikan pada Seminar  Nasional  Padi.  Makassar, 1 Agustus 2002. Yayasan Padi Indonesia.



Heong, K. L. 2005. Environmental sus-tainability: A vital component of Asia’s rice ecosystem. Paper presented at the International Rice Confrence. Bali 12-14 September 2005.
Hinds G.R.L.A.; C.J. Krebs; and D.M. Spratt eds  Rat mice and people : rodent biology and management ACIAR monograph. No. 96 p. 183-190.
Imam, M. Fahmid. 2004. Gagalnya Politik Pangan di Bawah Rezim Orde Baru. Sandi-Kota dan ISPEI. 184 hal.
Leirs, H., 2003.  Management of rodents in crops: The Pied Piper and his orchestra.  In Singleton,
Manwan. I. 1970. Empat tahun penelitian penggerek batang padi di Sulawesi Selatan. Laporan Hasil Penelitian Lembaga Penelitian Pertanian Makassar.

























Pabbage, M.S. dan D. Baco. 2001. Kemampuan Trichogramma evanes-cens memparasit telur hama penggerek batang jagung. Berita Puslitbangtan no. 19, Oktober 2001 hal.7
Pabbage, M. S. 2005. Pemanfaatan parasitoid telur, T. evanescens          (Hym. Trichogrammatidae)  sebagai pengendali penggerek batang jagung,  O.furnacalis  Disertasi Doktor di Universitas Hasanuddin.
Prayogo, Y. 2005. Cendawan entomopa-togen efektif mengendalikan hama pengisap polong kedelai. Berita Puslitbangtan No.32, Juni 2005 hal. 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar